gimana caranya agar bisa menulis dan berbicara dengan tingkat
kemampuan yang sama. Bagaimana bisa menulis selucu saat bicara dan atau
berbicara seinspiratif ketika menulis? Jujur, aku sulit menyeimbangkan
kedua hal yang sama. Masih belajar terus. Pada saat itu, saya
menceritakan pengalaman yang saya alami dan hari ini aku tuliskan cerita
itu.
Saya percaya, semua berawal dari pikiran dan pikiranku
memang acak dan suka melompat-lompat kesana kesana kemari alias
"Ngawur". Potongan-potongan gagasan lahir begitu saja dan acak
sifatnya.
Saat saya berbicara di depan umum, saya terkadang tidak
berpikir berbicara soal struktur kata atau ejaan yang disempurnakan EYD
atau struktur S=P=-O-K. Bukan hanya saya, banyak orang lain juga
begitu.
Menariknya, ketika gagasan acak yang kita sampaikan acak
diomongkan, dia tidak terasa atau terdengar acak. Ada dukungan intonasi,
mimik, gesture, nada bicara, volume, dll. Orang yang mengikuti
pembicaraan kita bisa terbawa suasana untuk memahami. Akibatnya gagasan
kita terdengar acak.
Permasalahan yang muncul adalah ketika
pembicaraan itu diubah menjadi tulisan, hasilnya bisa kacau. Jika kamu
terbiasa bicara di depan orang, coba rekam pidato ini lalu tulis ulang
dari hasil rekaman itu.
Diamkan selama tiga hari lalu baca.
Tulisan itu mungkin terasa aneh atau bahkan tidak nyambung. Itulah
bedanya berbicara dan menulis menurut pengalaman sendiri dan banyak
kawan, nulis jauh lebih sulit dibandingkan ngomong. Bagaimana cara
mengatasinya?
Coba perhatikan tulisan hasil transkrip pidato tadi.
Coba benahi tulisan yang terasa aneh dan tidak nyambung itu dengan
membubuhkan kata atau kalimat penghubung dan nyambung. Setelah itu, kita
coba baca ulang dan jadikan pedoman berlatih bicara. Pastikan intonasi
dan nada serta pelafalan benar. Jadi, naskah yang baru ini sudah
merupakan penyempurnaan dari versi omongan menjadi versi tulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar