Selasa, 11 Februari 2020

Belajar Menulis Lagi...

gimana caranya agar bisa menulis dan berbicara dengan tingkat kemampuan yang sama. Bagaimana bisa menulis selucu saat bicara dan atau berbicara seinspiratif ketika menulis? Jujur, aku sulit menyeimbangkan kedua hal yang sama. Masih belajar terus. Pada saat itu, saya menceritakan pengalaman yang saya alami dan hari ini aku tuliskan cerita itu.
Saya percaya, semua berawal dari pikiran dan pikiranku memang acak dan suka melompat-lompat kesana kesana kemari alias "Ngawur". Potongan-potongan gagasan lahir begitu saja dan acak sifatnya. 
Saat saya berbicara di depan umum, saya terkadang tidak berpikir berbicara soal struktur kata atau ejaan yang disempurnakan EYD atau struktur S=P=-O-K. Bukan hanya saya, banyak orang lain juga begitu. 
Menariknya, ketika gagasan acak yang kita sampaikan acak diomongkan, dia tidak terasa atau terdengar acak. Ada dukungan intonasi, mimik, gesture, nada bicara, volume, dll. Orang yang mengikuti pembicaraan kita bisa terbawa suasana untuk memahami. Akibatnya gagasan kita terdengar acak.
Permasalahan yang muncul adalah ketika pembicaraan itu diubah menjadi tulisan, hasilnya bisa kacau. Jika kamu terbiasa bicara di depan orang, coba rekam pidato ini lalu tulis ulang dari hasil rekaman itu. 
Diamkan selama tiga hari lalu baca. Tulisan itu mungkin terasa aneh atau bahkan tidak nyambung. Itulah bedanya berbicara dan menulis menurut pengalaman sendiri dan banyak kawan, nulis jauh lebih sulit dibandingkan ngomong. Bagaimana cara mengatasinya?
Coba perhatikan tulisan hasil transkrip pidato tadi. Coba benahi tulisan yang terasa aneh dan tidak nyambung itu dengan membubuhkan kata atau kalimat penghubung dan nyambung. Setelah itu, kita coba baca ulang dan jadikan pedoman berlatih bicara. Pastikan intonasi dan nada serta pelafalan benar. Jadi, naskah yang baru ini sudah merupakan penyempurnaan dari versi omongan menjadi versi tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar